January Rain
(Yasalam... begitu
sibuknya minggu ini sampai-sampai gue lupa nge-post ini. Tapi gapapa, meski
telat nge-post (karena udah bulan Februari) yang penting bisa ngebuat kita
tersenyum bersama)
Sabtu Malam, 21.30
Haaahhhh..... Capek sekali hari ini, tapi puasssh. Gue baru sadar: capek
dan puas adalah 2 hal yang begitu menyenangkan bila dikombinasikan. Kita capek,
tapi kita puasssh, haha lucu ya kalo dipikir-pikir... eiiiittts... jangan ngeres... Gue capek karena satu hal yang
amat-amat simple: maen tenis meja. Gila, udah lama ga maen tenis meja begitu
maen langsung diforsir, kerasa banget
capeknya. Dan gue puas karena 2 hal: 1) Kerinduan gue yang begitu ‘cetar membahana’ terhadap olahraga satu
ini terpenuhi sudah dan 2)..... gara-gara itu juga gue hari ini, setelah sekian
lama, kembali bertemu dengan sahabat gue (atau bisa juga dibilang, *ehem*,
cinta lama gue).
Pertemuan tadi, senyuman tadi, tos-tosan tadi, candaan tadi, dengannya, berarti
banget buat gue. Semua rasa kecanggungan, semua rasa ke-merasa bersalahan gue
ke dia selama ini menguap sudah. Semuanya menguap begitu saja, menyatu bersama
angin, dan pergi jauh entah kemana seiring tawa kita bersama. Gue senang hari
ini. Alhamdulillah...
Lah, katanya ‘january Rain’? Ko malah
bahagia? Hehe sori.. Itu curcol dikit.
Oke, lanjut ke
tujuan utama.
Bulan Januari 2013... Selama 16 tahun gue hidup, mungkin inilah awal tahun
tersuram yang pernah gue alamin. Gimana nggak, di bulan Januari ini ada 3 hal
utama yang berhasil membuat gue memejamkan mata sambil tertunduk: cinta,
Arsenal, dan Jakarta. Disamping itu ada banyak lagi hal lain yang membuat gue
ngerasa sedih di bulan ini, awal tahun ini. Banyak sekali.
Mari mulai dari yang pertama: cinta
Percintaan gue di bulan ini amburadul dan... akhirnya kandas.
Gue sayang dia sayang, gue nyaman dia nyaman. Trus masalahnya? Biasalah, ‘di jalan nemu seekor duaekor monyet yang
mencoba melepaskan genggaman kita saat kita berjalan.’ Gue sedih berakhir sama
dia, gue menyayangkan berakhir sama dia... TAPI ITU AWALNYA, MEN.
Belakangan gue bersyukur lepas sama tu
orang. Facebook mengungkap segalanya. (Ya, Facebook). Lama gue ga buka Facebook,
dan begitu buka, lihat profil tu orang, dan
brayyy... Semuanya jelas, semuanya..
semuanya.. Gue lega akhirnya. Ga ada lagi yang mengganggu di hati, ga ada lagi
pikiran ‘Duuh nyesel lepas sama dia, padahal gue sayang sama dia, nyaman sama
dia’ ga ada, sedikitpun. Yag ada adalah ‘Fiuh... untung lah ga jadi berjalan ke
arah yang salah.’ Terima kasih Facebook.
Eh, si Facebook ini emang tegar loh. Meski kini banyak dicerca orang,
terutama oleh si Twitter, dia nggak bergeming. Tetap tenang dan yakin dengan
dirinya, dan terus berjalan melihat ke depan bersama para pengikutnya. Sikap
tegar dan optimis yang layak ditiru. Bahkan katanya, yang nyerca si Facebook
ini tiap hari nambah 2½ orang. (Sebenarnya 3
orang sih, tapi ada 1 dari 2 orang ini yang masih ga jelas antara nyerca atau
nggak gara-gara punya pacar Pesbuker).
-_-
Lanjut yang kedua: Arsenal
Bagi yang belum tau, selain tenis meja gue
juga sangat suka dengan sepakbola. Dan tim sepakbola kesayangan gue adalah Arsenal
Football Club. Gue udah mendarah daging sama Arsenal. Entah apa yang membuat
gue begitu mencintai klub ini gue juga ga ngerti, yang jelas sejak pertama kali
gue ngeliat dia (Arsenal) gue langsung jatuh hati padanya. Lah ini cewek apa tim
sepakbola?
Tapi di bulan ini, loyalitas gue sebagai
Gooner (panggilan untuk fans Arsenal) lagi diuji. 2 kekalahan dan 1 hasil
imbang dari 3 match adalah alasannya.
Lebih menyesakkan lagi, 2 kekalahan itu didapat dari Chelsea dan Manchester
City, dua tim besar yang selalu jadi musuh bebuyutan. Jadilah gue diledekin
selama berhari-hari sama temen, terutama mereka yang merupakan fans Chelsea dan
City.
“Haduh... Udahlah... Arsenal itu tugasnya
hanya mencetak pemain bagus lalu dijual ke kita-kita. Ga perlu konsentrasi jadi
juara EPL,” kata seorang fans City yang menyebalkan.
“Kasihan ya elo, salut deh tetep setia jadi
Gooner. Arsenal itu banyak ngejual pemain ‘bintang’ dengan mudahnya tapi jarang
banget membeli pemain berkualitas, jadi deh maennya jelek. Kayak kita dong maennya
bagus, banyak uang pula geto loeh,” kata seorang fans Chelsea yang menjijikan.
Ya, apa yang mereka katakan emang beralasan.
Arsenal selama 7 tahun terakhir ini ga satu pun trophy yang didapat, agak miris
mengingat mereka adalah tim besar. Selain itu Arsenal juga banyak ngejual
pemain ‘bintang’-nya tapi enggan membeli pemain top. Itu jelas berpengaruh pada
performa Arsenal. Mungkin itu bagus buat keuangan tim, tapi bagi kita, para
fans, yang tugasnya memberi dukungan dan melihat Arsenal bermain? Itu sungguh
gak mengenakan.
Lalu kenapa gue
tetep setia jadi fans Arsenal? Ya karena, seperti kata Paman saya: “Dalam
kehidupan, orang bisa saja berganti istri, partai politik, atau Agama, tapi
tidak berganti tim sepakbola favorit.”
And last... Inilah yang menyempurnakan
kesenduan gue di bulan ini, awal tahun ini: Jekartah.
Ya, benar. Jekartah a.k.a Jakarta, Ibukota
negara kita, kena banjir (lagi). Banjir kali ini begitu besar dan parah. Asli,
air mata gue berlinang saat pertama kali lihat Jakarta banjir di TV (mungkin
karena musik pengiring beritanya musik sedih). Gue nggak bisa bayangin gimana
rasanya jadi mereka yang kena banjir.
Gue liat di TV, ada rumah yang cuma keliat
gentingnya aja. Itu berarti isi rumahnya kerendem! Dan yang namanya isi rumah
tau kan ada apa aja? Nah itu semua kerendem, Men! Gue ga bisa bayangin TV, perabot rumah, lemari, uang, celana
dalem (gue rasa celana dalem juga hal yang penting) mereka hanyut. rusak.
hilang.
Gue juga banyak ngeliat banyak orang yang
melambaikan tangan dari lantai dua rumah mereka, atap, dan genting rumah
mereka. Dan ketika dilihat dari udara sungguh luar biasa kawan... Jakarta sudah
seperti lautan susu coklat!
Namun, iniliah Indonesia, selalu ada kelucuan
dari setiap apa yang terjadi. Di berita TV itu ada satu rekaman yang membuat
gue tertawa kecil. Di tengah-tengah banjir itu, ada anak kecil yang lagi
berenang, anak itu terlihat sangat bahagia. Mungkin dia benar-benar mengira air
itu adalah susu coklat. Anak itu asik maen-maenin air, ciprat-cipratan air sama
temennya, dan ketika tau dirinya lagi di-shoot,
dia sontak melambai-lambaikan tangannya sambil teriak, “Hoi! Ayo sini
ikutan! Seru!” Anak itu sadar kalau kamera itu akan membawanya masuk TV ,
dikenal banyak orang, dan membuat orang yang melihatnya tersenyum.
Dan ini yang paling bikin miris soal Jakarta.
Gue ngebayangin di masa depan, ketika gue udah jadi kakek nanti dan punya cucu,
cucu gue itu bakal nanya ke gue, “Kek, Jakarta itu dimana? Katanya proklamasi
dilantunkan disana, tapi ko di peta ga ada?” Gue, yang terlalu sedih denger
cucu gue nanya gitu dan ga cukup kuat untuk bilang, ‘Jakarta tenggelam’,
mungkin akan pura-pura pikun dan menjawab, “Hah? Sedang ada dimana Kakek
sekarang, Nak? Bukannya tadi Kakek mau ke kamar mandi? Antarkan Kakek ke kamar
mandi sekarang!”
:’(
Itulah ....
Dari ketiga hal menyedihkan itu, dari semua
keabsurdan, kekampretan, dan kesialan di bulan ini, ga berlebihan rasanya kalau
gue melabeli bulan ini dengan: January Rain.
Gue hanya berharap, tidak ada lagi
‘rain-rain’ berikutnya. Tapi kalau pun ada, gapapa. Karena gue selalu yakin:
hari yang cerah selalu diawali dengan pagi yang mendung. Dan gue juga percaya,
kesedihan itu adalah berkah, berkah untuk menjadikan kita lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar