DARI KERAGUAN MENJADI SEBUAH TEPUK TANGAN
Internet hanyalah
musuh kreatifitas anak muda dan hanya merusak sistem pendidikan? Tidak,
pendapat seperti itu hanyalah milik orang yang berpikiran sempit dan hanya
melihat dari satu sudut pandang.
Itulah yang terbesit di benak
Ridwan, pemuda 18 tahun yang baru saja lulus SMA, kala secara tidak sengaja di
tengah-tengah acara kelulusan sekolahnya ia mendengar ocehan beberapa orangtua
murid yang mengomentari buruknya kemajuan teknologi dewasa ini, internet
khususnya.
Ridwan seketika tersenyum, merasa
lucu mengingat dulu dirinya juga pernah berpendapat seperti itu. Hingga
akhirnya rentetan peristiwa yang ia alami dapat membuatnya duduk di sini—kursi
paling depan acara kelulusan sekolahnya—dan menghapus pendapat tidak rasional
tersebut.
Tiba-tiba sebuah tangan dengan
cukup keras menepuk pundaknya dari belakang, menyadarkan ia dari lamunannya.
Ridwan menengok.
“Cieee yang jadi lulusan terbaik
dan keterima di UNPAD, jadi senyum-senyum terus deh,” ujar Syifa, pemilik
tangan yang tadi menepuknya.
“Lo salah, Syif, bukan keterima
di UNPAD, tapi dapet beasiswa kuliah di UNPAD! Hahaha…” sahut Doni, yang duduk
di sebelah Syifa.
Hati Ridwan sungguh melayang mendengar
perkataan kedua sahabatnya itu, “Haha, ngga juga,” ucapnya buru-buru, mencoba
menutupi rasa gembiranya yang berlebihan, “Makasih, ya, ini semua juga gak
lepas dari bantuan kalian. “
“Oke-oke..” jawab Doni, ‘sok’
santai.
“Lo jangan lupain kita, ya,”
Syifa menambahkan, lalu menempelkan telapak tangannya di pundak Ridwan, “Dan
inget, traktir kita hari ini ya temen gue yang hebaaat!”
Kedua orang itu lalu bangkit dari
tempat duduknya dan memeluk Ridwan. Sebuah pelukan yang begitu erat.
***
Lulusan
terbaik… Beasiswa UNPAD… Itu semua Ridwan dapatkan bukan dengan cara ringan,
melainkan dengan pengharapan yang dibarengi perjuangan. Ridwan berharap pada
suatu hal yang tidak banyak orang harapkan, dan Ridwan berjuang di atas
rata-rata perjuangan orang lain. Going
the extra miles.
Ridwan tahu, sebuah hal yang
tidak biasa selalu beresiko. Tapi ia yakin, setiap kerja keras selalu
membuahkan hasil yang selaras.
Keyakinan itulah yang menguatkan
Ridwan akan apa yang dilakukannya, akan usahannya yang tidak biasa. Apa usaha
Ridwan? Ridwan selalu mempelajari dan mencari tahu lebih banyak lagi setiap
pelajaran yang diajarkan di sekolahnya di internet, ia juga banyak mencari
informasi-informasi beasiswa kuliah di internet dan mengikuti tes beasiswa itu
via online.
Semua itu berkutat pada sebuah
dunia yang merupakan hasil dari kemajuan zaman, sebuah dunia yang tak berwujud:
internet.
Ridwan tetap yakin dengan apa
yang dilakukannya meski banyak yang meragukan dan menganggapnya berlebihan dan
‘sok’, ‘sok’ karena disaat teman-teman seusianya asik menggunakan internet
untuk hiburan, dia justru memanfaatkannya sebagai sarana pendidikan dan mencari
keberuntungan beasiswa.
Namun Ridwan tak pedulikan
anggapan itu, ia justru menjadikan itu sebagai penyemangat untuk membuktikan akan
apa yang dilakukan. Karena ia meyakini: semakin tinggi harapan, semakin banyak
pula ujian.
Keraguan
juga muncul dari kedua sahabatnya.
“Lo ngapain, sih, Wan? Pelajaran
itu kan udah begitu jelas dijelasin di sekolah, simple pula penjelasannya. Ngapain lo nyari lagi di internet?
Lagian, yang di internet kan ribet banget penjelasannya, emang lo ngerti? Dan,
emang lo gak capek ya belajar terus?” kata Doni, yang sebel sekaligus kasihan
melihat sahabatnya yang selalu belajar di atas rata-rata orang lain dan mesti bolak-balik
ke Warnet untuk browsing materi
pelajarannya di internet.
“Hati-hati, loh,
Wan, itu kan bisa aja penipuan. Ntar lo kecewa. Gue belum pernah denger soalnya
tentang info-info beasiswa kuliah di internet. Lo jangan terlalu tinggi
berharap aja, ya, biar nanti lo juga gak terlalu kecewa. Gue takut lo jadi down nantinya,” kata Syifa, yang
khawatir melihat sahabatnya itu begitu antusias terhadap info-info beasiswa
kuliah di internet yang menurutnya gak jelas itu.
Komentar-komentar
itu selalu Ridwan balas dengan senyuman dan jawaban singkat, seperti: “Masih
ada yang kurang pada materi itu..” atau “Iya, makasih udah ngingetin, ya”. Ia
terlalu malas untuk menjelaskan panjang lebar, yang jelas ia tahu apa yang ia
lakukan. Dan yang jelas, ia sangat menghargai dan berterimakasih atas
kepedulian sahabat-sahabatnya terhadap dirinya. Sungguh, itu merupakan nafas segar dan penyejuk hati, begitu
batinnya berkata.
Ridwan hanya suka
menceritakan itu pada Dia yang di atas, pada Dia yang maha mendengar, maha
mengerti, dan maha mewujudkan harapan.
Hingga akhirnnya
janji Allah tentang Man Jadda Wajada (siapa
yang bersungguh-sungguh akan berhasil) dan Man
Shabara Zhafira (siapa yang bersabar akan beruntung) berbicara… Kerja keras
Ridwan dalam belajar terbayar dengan berhasilnya ia menjadi lulusan terbaik di
sekolahnya, dan kesabaran Ridwan dalam mempertahankan usahanya, menerima
komentar orang-orang yang meragukannya, dan kesabarannya untuk terus percaya
akan janji Allah terbayar dengan terwujudnya harapan untuk mendapat beasiswa
kuliah, ia mendapat beasiswa kuliah di Universitas Padjajaran (UNPAD) dari tes online penerimaan beasiswa yang sering
ia lakukan, yang sering orang ragukan.
Satu hal yang ia
sadari kini : Harapan + Perjuangan + Kehendak Tuhan = Sebuah Pencapaian
***
Ridwan kini tersenyum lebar di
atas mimbar, di lehernya tergantung medali yang baru saja diserahkan oleh
kepala sekolahnya yang bertuliskan: LULUSAN TERBAIK. Matanya mulai
berkaca-kaca, mengingat ia baru saja membuktikan sebuah pepatah yang tak pernah
salah: Bersaki-sakit dahulu
bersenang-senang kemudian.
Dan,
keraguan-keraguan dari mereka kini telah berubah menjadi sebuah tepuk tangan.