Minggu, 12 Mei 2013

cepe (lagi bener)


DARI KERAGUAN MENJADI SEBUAH TEPUK TANGAN


Internet hanyalah musuh kreatifitas anak muda dan hanya merusak sistem pendidikan? Tidak, pendapat seperti itu hanyalah milik orang yang berpikiran sempit dan hanya melihat dari satu sudut pandang.
Itulah yang terbesit di benak Ridwan, pemuda 18 tahun yang baru saja lulus SMA, kala secara tidak sengaja di tengah-tengah acara kelulusan sekolahnya ia mendengar ocehan beberapa orangtua murid yang mengomentari buruknya kemajuan teknologi dewasa ini, internet khususnya.
Ridwan seketika tersenyum, merasa lucu mengingat dulu dirinya juga pernah berpendapat seperti itu. Hingga akhirnya rentetan peristiwa yang ia alami dapat membuatnya duduk di sini—kursi paling depan acara kelulusan sekolahnya—dan menghapus pendapat tidak rasional tersebut.
Tiba-tiba sebuah tangan dengan cukup keras menepuk pundaknya dari belakang, menyadarkan ia dari lamunannya. Ridwan menengok.
“Cieee yang jadi lulusan terbaik dan keterima di UNPAD, jadi senyum-senyum terus deh,” ujar Syifa, pemilik tangan yang tadi menepuknya.
“Lo salah, Syif, bukan keterima di UNPAD, tapi dapet beasiswa kuliah di UNPAD! Hahaha…” sahut Doni, yang duduk di sebelah Syifa.
Hati Ridwan sungguh melayang mendengar perkataan kedua sahabatnya itu, “Haha, ngga juga,” ucapnya buru-buru, mencoba menutupi rasa gembiranya yang berlebihan, “Makasih, ya, ini semua juga gak lepas dari bantuan kalian. “
“Oke-oke..” jawab Doni, ‘sok’ santai.
“Lo jangan lupain kita, ya,” Syifa menambahkan, lalu menempelkan telapak tangannya di pundak Ridwan, “Dan inget, traktir kita hari ini ya temen gue yang hebaaat!”
Kedua orang itu lalu bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Ridwan. Sebuah pelukan yang begitu erat.
***
Lulusan terbaik… Beasiswa UNPAD… Itu semua Ridwan dapatkan bukan dengan cara ringan, melainkan dengan pengharapan yang dibarengi perjuangan. Ridwan berharap pada suatu hal yang tidak banyak orang harapkan, dan Ridwan berjuang di atas rata-rata perjuangan orang lain. Going the extra miles.
Ridwan tahu, sebuah hal yang tidak biasa selalu beresiko. Tapi ia yakin, setiap kerja keras selalu membuahkan hasil yang selaras.
Keyakinan itulah yang menguatkan Ridwan akan apa yang dilakukannya, akan usahannya yang tidak biasa. Apa usaha Ridwan? Ridwan selalu mempelajari dan mencari tahu lebih banyak lagi setiap pelajaran yang diajarkan di sekolahnya di internet, ia juga banyak mencari informasi-informasi beasiswa kuliah di internet dan mengikuti tes beasiswa itu via online.
Semua itu berkutat pada sebuah dunia yang merupakan hasil dari kemajuan zaman, sebuah dunia yang tak berwujud: internet.
Ridwan tetap yakin dengan apa yang dilakukannya meski banyak yang meragukan dan menganggapnya berlebihan dan ‘sok’, ‘sok’ karena disaat teman-teman seusianya asik menggunakan internet untuk hiburan, dia justru memanfaatkannya sebagai sarana pendidikan dan mencari keberuntungan beasiswa.
Namun Ridwan tak pedulikan anggapan itu, ia justru menjadikan itu sebagai penyemangat untuk membuktikan akan apa yang dilakukan. Karena ia meyakini: semakin tinggi harapan, semakin banyak pula ujian.
Keraguan juga muncul dari kedua sahabatnya.
“Lo ngapain, sih, Wan? Pelajaran itu kan udah begitu jelas dijelasin di sekolah, simple pula penjelasannya. Ngapain lo nyari lagi di internet? Lagian, yang di internet kan ribet banget penjelasannya, emang lo ngerti? Dan, emang lo gak capek ya belajar terus?” kata Doni, yang sebel sekaligus kasihan melihat sahabatnya yang selalu belajar di atas rata-rata orang lain dan mesti bolak-balik ke Warnet untuk browsing materi pelajarannya di internet.
“Hati-hati, loh, Wan, itu kan bisa aja penipuan. Ntar lo kecewa. Gue belum pernah denger soalnya tentang info-info beasiswa kuliah di internet. Lo jangan terlalu tinggi berharap aja, ya, biar nanti lo juga gak terlalu kecewa. Gue takut lo jadi down nantinya,” kata Syifa, yang khawatir melihat sahabatnya itu begitu antusias terhadap info-info beasiswa kuliah di internet yang menurutnya gak jelas itu.
Komentar-komentar itu selalu Ridwan balas dengan senyuman dan jawaban singkat, seperti: “Masih ada yang kurang pada materi itu..” atau “Iya, makasih udah ngingetin, ya”. Ia terlalu malas untuk menjelaskan panjang lebar, yang jelas ia tahu apa yang ia lakukan. Dan yang jelas, ia sangat menghargai dan berterimakasih atas kepedulian sahabat-sahabatnya terhadap dirinya. Sungguh, itu merupakan nafas segar dan penyejuk hati, begitu batinnya berkata.
Ridwan hanya suka menceritakan itu pada Dia yang di atas, pada Dia yang maha mendengar, maha mengerti, dan maha mewujudkan harapan.
Hingga akhirnnya janji Allah tentang Man Jadda Wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil) dan Man Shabara Zhafira (siapa yang bersabar akan beruntung) berbicara… Kerja keras Ridwan dalam belajar terbayar dengan berhasilnya ia menjadi lulusan terbaik di sekolahnya, dan kesabaran Ridwan dalam mempertahankan usahanya, menerima komentar orang-orang yang meragukannya, dan kesabarannya untuk terus percaya akan janji Allah terbayar dengan terwujudnya harapan untuk mendapat beasiswa kuliah, ia mendapat beasiswa kuliah di Universitas Padjajaran (UNPAD) dari tes online penerimaan beasiswa yang sering ia lakukan, yang sering orang ragukan.
Satu hal yang ia sadari kini : Harapan + Perjuangan + Kehendak Tuhan = Sebuah Pencapaian
***
Ridwan kini tersenyum lebar di atas mimbar, di lehernya tergantung medali yang baru saja diserahkan oleh kepala sekolahnya yang bertuliskan: LULUSAN TERBAIK. Matanya mulai berkaca-kaca, mengingat ia baru saja membuktikan sebuah pepatah yang tak pernah salah: Bersaki-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
Dan, keraguan-keraguan dari mereka kini telah berubah menjadi sebuah tepuk tangan.

Minggu, 24 Februari 2013

Belajar yuk!

Cara Belajar yang Efektif dan Menyenangkan

 

Pengin jadi giat belajar??? Tapi pada kenyatannya susah bangeuddd dan bingung gimana caranya... Nih ada tips cara belajar biar jadi semangat dan menyenangkan yang mudah untuk diterapkan!

1. Belajar tanpa Mood
Belajarlah karena kesungguhan kita untuk berubah, jangan belajar hanya dengan berlandaskan mood saja. iya kalau pas nice mood, la kalau pas bad mood kita jadikan alasan untuk kita tidak belajar, saya berani jamin ilmu yang anda pelajari akan sama halnya dengan air yang menetes di lapangan panas, sangat mudah menguap. Jadi jangan pernah belajar berdasarkan mood ya kalau ingin hasil yang memuaskan.

2. Belajarlah di manapun anda suka
Carilah tempat yang nyaman dan dapat menenangkan pikiran kita sewaktu belajar, dengan keadaan yang nyaman kita akan lebih mudah dalam memahami materi.

3. Jangan belajar terlalu banyak ketika akan ujian
Inilah sebuah doktrin yang dirasa sangat keliru, "kamu harus belajar sungguh-sungguh, besok ada ujian"..kira-kira teman-teman sudah mendengar ocehan yang seperti itu? Ini adalah kesalahan, sebenarnya ketika akan ujian itu kita gunakan untuk merehat otak sekejap, justru pas hari-hari biasalah kita harus sungguh-sungguh. Sistem KS (kebut semalam) sangat merusak cara berpikir kita, karena hanya akan menimbulkan tekanan bukan pengetahuan.

4. Belajar sambil diskusi
Belajar secara kelompok memang dimaksudkan agar seseorang yang kurang mampu memahami materi bisa berdiskusi dengan orang yang sudah paham. Sehingga pertukaran ide terus berjalan, yang pintar tidak semakin pintar, begitu pula yang bodoh tidak semakin terperosok. Semua bisa menjadi seimbang.

5. Belajar dengan diiringi musik
Musik memang bisa meningkatkan konsentrasi kita dalam belajar, namun hal ini tidak selalu terjadi pada setiap orang. Ada beberapa orang yang malah suka keadaan yang hening. Jadi, jika musik bisa membantumu berkonsentrasi, just listen it :)

6. Jangan hanya menghafal
metode menghafal mungkin bisa menyukseskan kita dalam mencari "nilai-yang-baik", namun apakah pengetahuan kita bertambah? tidak. Pahamilah materi dengan mempelajari konsep-konsepnya, bagaimana hal itu bisa terjadi, mengapa, apa selanjutnya, begitulah cara berpikir yang harus dikembangkan meskipun memakan waktu yang cukup lama. Sehingga kita akan tahu betapa indahnya Ilmu Pengetahuan itu. Dalam film 3 idiots, ada sebuah quotes yang sangat mengena: "Dengan menghafal, kamu bisa menghemat waktumu selama 4 tahun di universitas, namun kau telah menghancurkan 40 tahun hidupmu kedepan"

7. Jangan malu-malu untuk bertanya
Bila kita ada yang belum paham mengenai materi yang diajarkan, cukup dengan acungkan jari dan bertanyalah kepada bapak/ibu guru, jangan malu bertanya bila kita tidak bisa, jangan jadikan gengsi "takut dibilang lambat oleh teman2" sebagai alasan, karena hal yang seperti itu tidak masuk akal!

8. Coba dan Gagal (Trial and Error)
Dalam hidup ini, gagal adalah teman kita juga, jadi jangan pernah menghindar darinya. Kita terjatuh, untuk apa? agar kita tahu bagaimana cara untuk bangun. Kita tidak akan pernah tahu yang benar itu bagaimana jika kita tidak kenal dengan KESALAHAN dulu. Materi yang sesulit apapun, pasti akan bisa kita kuasai asal tidak ada kata menyerah memahaminya. Coba terus, gagal sudah biasa.

9. Cintailah mata pelajaran yang anda suka
Anda tidak bisa dalam fisika (misal), namun anda sangat mencintai pelajaran yang satu ini. Maka dengan kecintaan itu, suatu saat akan menjadikan anda seorang fisikawan hebat, karena sesuatu yang dilakukan sepenuh hati akan menghasilkan hasil yang memuaskan. Sekarang tidak bisa, namun karena kecintaan tersebut anda mempelajarinya setiap waktu, tunggulah hingga mimpi indah tiba. You'll be the best, but wait until the time's coming on ^_^

10. Ingatlah tujuan utama kita sekolah
Tujuan utama kita sekolah ialah untuk mencari ilmu pengetahuan, bukan hanya menerima "Cara Untuk Memperoleh Nilai yang Baik" saja. Nilai tidak akan bisa mencerminkan kualitas seseorang, lihatlah kenyataannya. Tidak masalah kita ada di peringkat berapapun, yang terpenting ialah belajar bukan untuk mencapai kesuksesan..tetapi untuk membesarkan jiwa. ini merupakan Cara Belajar paling Efektif yang terus saya gunakan, karena saya yakin ilmu bukan sebatas CORETAN NILAI, tapi banyaknya kita berbagi kepada sesama.

11. Kunci semua metode belajar
Kuncinya terletak pada kesungguhan kita dalam berdo'a, karena saya masih ingat betul ada yang bilang kecerdasan seseorang 73% dari kesungguhan do'anya, sedangkan 27% dari belajar. Intinya do'a sangatlah penting, sebagai bentuk pasrah kita Kepada Allah. Namun belajar juga sangatlah penting, ingat! Tidak bisa mencapai 100% tanpa ada yang 27% tersebut.

Senin, 11 Februari 2013

Asah Otak

Teka-teki Einstein (98% Orang Tidak Tahu Jawabannya)

 Matematika (MAkinTEkunMAkinTIdakKAruan) adalah pelajaran yang penuh akan logika.
Dan  ini adalah teka-teki yang berhubungan dengan Matematika yang dibuat oleh bapak Fisiska se-dunia a.k.a Si Kumis Baplang: Ablbert Einstein.
Pada teka-teki yang dibuat se-abad yang lalu ini beliau menyatakan, "98% penduduk di dunia tidak mampu memecahkan teka-teki ini."
Apakah elo termasuk pada yang 98%? atau mungkin masuk kelompok yang hanya 2 % itu?
Untuk membuktikan, mari kita mencobanya...

Siap?

Bismillah dulu dong... Bismillahirahmanirrahiim...

 *Tips mengerjakan : Kerjakanlah dengan tersenyum (meskipun rasanya hampir mustahil soal ini dikerjakan dengan tersenyum, yang ada mah jidat berkerut kencang), karena apapun yang dilakukan dengan tersenyum, apalagi bila bersama-bersama, akan lebih mudah dan menyenangkan. Salam tersenyum bersama :)






Ada 5 buah rumah yang masing-masing memiliki warna berbeda.Setiap rumah dihuni satu orang pria dengan kebangsaan yang berbeda-beda.Setiap penghuni menyukai satu jenis minuman tertentu.Merokok satu merek rokok tertentu dan memelihara satu jenis hewan tertentu.Tidak ada satupun dari kelima orang tersebut yang minum minuman yang sama, merokok merek rokok yang sama dan memelihara hewan yang sama seperti penghuni yang lain.
Petunjuk:
  1. Orang Inggris tinggal di dalam rumah berwarna merah.
  2. Orang Swedia memelihara anjing.
  3. Orang Denmark senang minum teh.
  4. Rumah berwarna hijau terletak tepat disebelah kiri rumah berwarna putih.
  5. Penghuni rumah berwarna hijau senang minum kopi.
  6. Orang yang merokok PallMall memelihara burung.
  7. Penghuni rumah yang terletak di tengah-tengah senang minum susu.
  8. Penghuni rumah berwarna kuning merokok Dunhill.
  9. Orang Norwegia tinggal dirumah paling pertama.
  10. Orang yang merokok Marlboro tinggal disebelah orang yang memelihara kucing.
  11. Orang yang memelihara kuda tinggal disebelah orang yang merokok Dunhill.
  12. Orang yang merokok Winfield senang minum bir.
  13. Disebelah rumah berwarna biru tinggal orang Norwegia.
  14. Orang Jerman merokok Rothmans.
  15. Orang yang merokok Marlboro bertetangga dengan orang yang minum air.
Pertanyaannya: Siapakah yang memelihara IKAN?

Good luck!

 

Minggu, 03 Februari 2013

January Rain


January Rain


(Yasalam... begitu sibuknya minggu ini sampai-sampai gue lupa nge-post ini. Tapi gapapa, meski telat nge-post (karena udah bulan Februari) yang penting bisa ngebuat kita tersenyum bersama)

Sabtu Malam, 21.30
       Haaahhhh..... Capek sekali hari ini, tapi puasssh. Gue baru sadar: capek dan puas adalah 2 hal yang begitu menyenangkan bila dikombinasikan. Kita capek, tapi kita puasssh, haha lucu ya kalo dipikir-pikir... eiiiittts... jangan ngeres... Gue capek karena satu hal yang amat-amat simple: maen tenis meja. Gila, udah lama ga maen tenis meja begitu maen langsung diforsir, kerasa banget capeknya. Dan gue puas karena 2 hal: 1) Kerinduan gue yang begitu ‘cetar membahana’ terhadap olahraga satu ini terpenuhi sudah dan 2)..... gara-gara itu juga gue hari ini, setelah sekian lama, kembali bertemu dengan sahabat gue (atau bisa juga dibilang, *ehem*, cinta lama gue).
            Pertemuan tadi, senyuman tadi, tos-tosan tadi, candaan tadi, dengannya, berarti banget buat gue. Semua rasa kecanggungan, semua rasa ke-merasa bersalahan gue ke dia selama ini menguap sudah. Semuanya menguap begitu saja, menyatu bersama angin, dan pergi jauh entah kemana seiring tawa kita bersama. Gue senang hari ini. Alhamdulillah...

            Lah, katanya ‘january Rain’? Ko malah bahagia? Hehe sori.. Itu curcol dikit.
           
Oke, lanjut ke tujuan utama.
            Bulan Januari 2013... Selama 16 tahun gue hidup, mungkin inilah awal tahun tersuram yang pernah gue alamin. Gimana nggak, di bulan Januari ini ada 3 hal utama yang berhasil membuat gue memejamkan mata sambil tertunduk: cinta, Arsenal, dan Jakarta. Disamping itu ada banyak lagi hal lain yang membuat gue ngerasa sedih di bulan ini, awal tahun ini. Banyak sekali.
            Mari mulai dari yang pertama: cinta
            Percintaan gue di bulan ini amburadul dan... akhirnya kandas.
            Gue sayang dia sayang, gue nyaman dia nyaman. Trus masalahnya? Biasalah, ‘di jalan nemu seekor duaekor monyet yang mencoba melepaskan genggaman kita saat kita berjalan.’ Gue sedih berakhir sama dia, gue menyayangkan berakhir sama dia... TAPI ITU AWALNYA, MEN.
            Belakangan gue bersyukur lepas sama tu orang. Facebook mengungkap segalanya. (Ya, Facebook). Lama gue ga buka Facebook, dan begitu buka, lihat profil tu orang, dan brayyy... Semuanya jelas, semuanya.. semuanya.. Gue lega akhirnya. Ga ada lagi yang mengganggu di hati, ga ada lagi pikiran ‘Duuh nyesel lepas sama dia, padahal gue sayang sama dia, nyaman sama dia’ ga ada, sedikitpun. Yag ada adalah ‘Fiuh... untung lah ga jadi berjalan ke arah yang salah.’ Terima kasih Facebook.
            Eh, si Facebook ini emang tegar loh. Meski kini banyak dicerca orang, terutama oleh si Twitter, dia nggak bergeming. Tetap tenang dan yakin dengan dirinya, dan terus berjalan melihat ke depan bersama para pengikutnya. Sikap tegar dan optimis yang layak ditiru. Bahkan katanya, yang nyerca si Facebook ini tiap hari nambah 2½ orang. (Sebenarnya 3 orang sih, tapi ada 1 dari 2 orang ini yang masih ga jelas antara nyerca atau nggak gara-gara punya pacar Pesbuker).
            -_-
Lanjut yang kedua: Arsenal
Bagi yang belum tau, selain tenis meja gue juga sangat suka dengan sepakbola. Dan tim sepakbola kesayangan gue adalah Arsenal Football Club. Gue udah mendarah daging sama Arsenal. Entah apa yang membuat gue begitu mencintai klub ini gue juga ga ngerti, yang jelas sejak pertama kali gue ngeliat dia (Arsenal) gue langsung jatuh hati padanya. Lah ini cewek apa tim sepakbola?
Tapi di bulan ini, loyalitas gue sebagai Gooner (panggilan untuk fans Arsenal) lagi diuji. 2 kekalahan dan 1 hasil imbang dari 3 match adalah alasannya. Lebih menyesakkan lagi, 2 kekalahan itu didapat dari Chelsea dan Manchester City, dua tim besar yang selalu jadi musuh bebuyutan. Jadilah gue diledekin selama berhari-hari sama temen, terutama mereka yang merupakan fans Chelsea dan City.
“Haduh... Udahlah... Arsenal itu tugasnya hanya mencetak pemain bagus lalu dijual ke kita-kita. Ga perlu konsentrasi jadi juara EPL,” kata seorang fans City yang menyebalkan.
“Kasihan ya elo, salut deh tetep setia jadi Gooner. Arsenal itu banyak ngejual pemain ‘bintang’ dengan mudahnya tapi jarang banget membeli pemain berkualitas, jadi deh maennya jelek. Kayak kita dong maennya bagus, banyak uang pula geto loeh,” kata seorang fans Chelsea yang menjijikan.
Ya, apa yang mereka katakan emang beralasan. Arsenal selama 7 tahun terakhir ini ga satu pun trophy yang didapat, agak miris mengingat mereka adalah tim besar. Selain itu Arsenal juga banyak ngejual pemain ‘bintang’-nya tapi enggan membeli pemain top. Itu jelas berpengaruh pada performa Arsenal. Mungkin itu bagus buat keuangan tim, tapi bagi kita, para fans, yang tugasnya memberi dukungan dan melihat Arsenal bermain? Itu sungguh gak mengenakan. 
Lalu kenapa gue tetep setia jadi fans Arsenal? Ya karena, seperti kata Paman saya: “Dalam kehidupan, orang bisa saja berganti istri, partai politik, atau Agama, tapi tidak berganti tim sepakbola favorit.”
And last... Inilah yang menyempurnakan kesenduan gue di bulan ini, awal tahun ini: Jekartah.
Ya, benar. Jekartah a.k.a Jakarta, Ibukota negara kita, kena banjir (lagi). Banjir kali ini begitu besar dan parah. Asli, air mata gue berlinang saat pertama kali lihat Jakarta banjir di TV (mungkin karena musik pengiring beritanya musik sedih). Gue nggak bisa bayangin gimana rasanya jadi mereka yang kena banjir.
Gue liat di TV, ada rumah yang cuma keliat gentingnya aja. Itu berarti isi rumahnya kerendem! Dan yang namanya isi rumah tau kan ada apa aja? Nah itu semua kerendem, Men! Gue ga bisa bayangin TV, perabot rumah, lemari, uang, celana dalem (gue rasa celana dalem juga hal yang penting) mereka hanyut. rusak. hilang.
Gue juga banyak ngeliat banyak orang yang melambaikan tangan dari lantai dua rumah mereka, atap, dan genting rumah mereka. Dan ketika dilihat dari udara sungguh luar biasa kawan... Jakarta sudah seperti lautan susu coklat!
Namun, iniliah Indonesia, selalu ada kelucuan dari setiap apa yang terjadi. Di berita TV itu ada satu rekaman yang membuat gue tertawa kecil. Di tengah-tengah banjir itu, ada anak kecil yang lagi berenang, anak itu terlihat sangat bahagia. Mungkin dia benar-benar mengira air itu adalah susu coklat. Anak itu asik maen-maenin air, ciprat-cipratan air sama temennya, dan ketika tau dirinya lagi di-shoot, dia sontak melambai-lambaikan tangannya sambil teriak, “Hoi! Ayo sini ikutan! Seru!” Anak itu sadar kalau kamera itu akan membawanya masuk TV , dikenal banyak orang, dan membuat orang yang melihatnya tersenyum.
Dan ini yang paling bikin miris soal Jakarta. Gue ngebayangin di masa depan, ketika gue udah jadi kakek nanti dan punya cucu, cucu gue itu bakal nanya ke gue, “Kek, Jakarta itu dimana? Katanya proklamasi dilantunkan disana, tapi ko di peta ga ada?” Gue, yang terlalu sedih denger cucu gue nanya gitu dan ga cukup kuat untuk bilang, ‘Jakarta tenggelam’, mungkin akan pura-pura pikun dan menjawab, “Hah? Sedang ada dimana Kakek sekarang, Nak? Bukannya tadi Kakek mau ke kamar mandi? Antarkan Kakek ke kamar mandi sekarang!”
:’(
Itulah ....
Dari ketiga hal menyedihkan itu, dari semua keabsurdan, kekampretan, dan kesialan di bulan ini, ga berlebihan rasanya kalau gue melabeli bulan ini dengan: January Rain.
Gue hanya berharap, tidak ada lagi ‘rain-rain’ berikutnya. Tapi kalau pun ada, gapapa. Karena gue selalu yakin: hari yang cerah selalu diawali dengan pagi yang mendung. Dan gue juga percaya, kesedihan itu adalah berkah, berkah untuk menjadikan kita lebih baik.